Tampilkan postingan dengan label Sampit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sampit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Oktober 2011

Sampit: Puteri Junjung Buih

   Diperkirakan, Kerajaan sungai Sampit berdiri pada masa kekuasaan Dinasti Ming di Tiongkok (abad ke-13).Hal ini dapat dicermati dari ramainya lalu lintas perdagangan dari Tiongkok yang demikian maju sampai kemudian runtuhnya Dinasti Ming dan merek banyak yang lari kearah selatan (Kalimantan). Diceritakan pula, bahwa Puteri Junjung Buih, istri dari Pangeran Suryanata, pernah pula berkunjung ke kerajaan sungai Sampit. Seperti diketahui, Pangeran Suryanata (berkuasa antara 1400-1435) adalah seorang pangeran dari kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Wirakarrama Wardhana sekitar 1389-1435 (Masdipura; 2003).
Bila ditelisik lebih jauh, Kerajaan Sungai Sampit ini usianya lebih tua dari Negara Dipa (abad ke-14),sehingga di buku NegarakertagamaKesultanan Banjar (1526) tidak tertulis karena merupakan dinasti penerus dari Kerajaan Negara Dipa, kerajaan Hindu yang terletak di tepi sungai Tabalong. Terbukti pula, kala Putri junjung Buih hendak dikawinkan dengan Pangeran suryanata,40 kerajaan besar dan kecil pada waktu itu bermufakat untuk menyerang Negara Dipa. Namun, mereka dapat ditaklukkan dan sejak itulah kerajaan-kerajaan itu menjadi vazal Kerajaan Banjar. Bukti-bukti ini dapat ditelusuri pada Traktat Karang Intan di mana Sampit sebagai salah satu wilayah yang diserahkan kepada VOC.
Kota Sampit juga pernah disebut-sebut di dalam buku kuno Negarakertagama. Pada masa itu disebutkan, terutama pada masa keemasan Kerajaan majapahit, yang diperintah oleh Raja Hayam Wuruk dengan mahapatihnya yang tersohor yaitu Gajah Mada.Di salah satu bagian buku yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365 itu disebutkan, bahwa pernah dilakukan ekspedisi perjalanan Nusantara di mana salah satu tempat yang mereka singgahi adalah Sampit dan Kuala Pembuang.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Sampit

Sampit: Tari Bausik Rasa


Selamat menyaksikan teman-teman !!!

Foto-foto Kota Sampit Saat Ini

                                                 Bundaran Kota Sampit

  Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) letaknya tepat berada di pinggir Sungai Mentaya, tempat masyarakat Kota Sampit berbelanja.

                                                     Bandara H. Asan 


                  Wisma Sampit, sering digunakan untuk merayakan berbagai acara.

                                                          Taman Sampit


                                             Bank Indonesia sampit

                                             Adipura Kota Sampit

Sejarah Sampit dan Kalimantan setelah Merdeka

   Orang pertama yang membuka daerah kawasan Sampit pertama kali adalah orang yang bernama Sampit yang berasal dari Bati-Bati, Kalimantan Selatan sekitar awal tahun 1800-an. Sebagai bukti sejarah, makam “Datu” Sampit sendiri dapat ditemui di sekitar Basirih. “Datu” Sampit mempunyai dua orang anak yaitu Alm. “Datu” Djungkir dan “Datu” Usup Lamak. Makam keramat “Datu” Djungkir dapat ditemui di daerah pinggir sungai mentaya di Baamang Tengah, Sampit. Sedangkan makam “Datu” Usup Lamak berada di Basirih.

  Sedangkan kata Sampit menurut versi buku “Merajut Sampit dalam Persfektif Global” karya Drs. Wahyudi K. Anwar(Bupati Kotawaringin Timur) berasal dari bahasa China atau pun berbagai versi lainnya adalah salah besar. Buku tersebut menurut Drs H. Madjedi Filmansyah, MBA adalah membodohi orang Sampit akan kebenaran Sejarah Sampit yang sebenarnya atau bahasa Banjarnya buku Wahyudi tersebut “mambunguli urang banyak tentang sejarah Sampit”.

Gubernur pertama yang ada di Kalimantan bernama Ir. Pangeran Muhammad Nur (1950)
Yang kedua bernama Dr. Murjani (1953)
Yang ketiga bernama RTA Milono (1956)
Setelah masa jabatan RTA Milono, Kalimantan dimekarkan menjadi 3 propinsi, yaitu :
1. Kalimantan Barat dengan Gubernur RA. Afflus
2. Kalimantan Selatan dengan gubernur Sarkawi
3. Kalimantan Timur
4. Kalimantan Tengah (Masih dalam persiapan) dengan gubernur RTA. Milono yang berkantor di Kalimantan Selatan.

Tjilik Riwut menjadi bupati kotawaringin, yang kantornya berada di kota Sampit.

Untuk mewujudkan Palangkaraya sebagai propinsi terjadi gerakan yang dilaksanakan oleh :
1. Simbar
2. Embang

Dan pada saat itu, Tjilik Riwut masih menjabat sebagai Bupati Kotawaringin di Sampit.
Adapun Simbar, pada saat itu menjabat sebagai WEDANA, sedangkan Embang, sebagai anak buah dari Simbar.
Semua ini adalah merupakan trik-trik politik yang dilakukan oleh seorang untuk mewujudkan ibukota Propinsi Kalimantan Tengah berada di Palangkaraya.

Tahun 1957

Tahun 1957, Tjilik Riwut menjadi Gubernur Palangkaraya. Kemudian 6 bulan setelah itu, Kodam Tambun Bungai didirikan di kota Sampit.
- Yang pertama kali menjabat sebagai Pangdam Tambun Bungai di kota Sampit, adalah Letkol Darmo Sugondo pada tahun 1957
- Yang kedua adalah Letkol Erman Harirustaman pada tahun 1959
- Yang ketiga adalah Kolonel Darsono pada tahun 1960.
- Yang keempat adalah Kolonel Sabirin Muhtar pada tahun 1962.
Dan pada saat itu, hanya ada 1 buah mobil jeep di kota Sampit.

Soekarno datang ke kota Sampit

  Soekarno datang ke kota Sampit pada tanggal 9, bulan 9, tahun 1959, jam 9. Dalam pidatonya di kota Sampit, Tjilik Riwut mengatakan bahwa kedatangan Bung Karno ke Kota Sampit adalah merupakan angka keramat. Kemudian, dalam sambutannya di kota Sampit, Bung Karno mengatakan “ Saya datang bukanlah sebagai seorang malaikat, akan tetapi saya datang sebagai seorang hamba ALLAH yang sama seperti kalian yang ada disekitar saya.”

  Soekarno sempat menikahi seorang perempuan yang berasal dari Sampit yang bernama Lori Ismail, di Palangkaraya. Setelah Bung Karno datang, pada bulan November, setelah terjadi Gajah Timpang. Arti Gajah Timpang tersebut adalah pemotongan uang seribu rupiah menjadi seratus rupiah. Kemudian pada tahun 1965, kembali terjadi, Gajah Lumpuh dari seribu rupiah menjadi satu rupiah.

Sejarah Kota Sampit

     Menelusuri jejak sejarah Kota Sampit, nama ibukota Kotawaringin Timur itu ternyata tak lepas dari pengaruh budaya Tionghoa. Konon, asal mula nama Sampit diambil dari bahasa Cina, yang artinya Sam (tiga) dan It (satu). Bagaimana sejarahnya?

      Sejarah Sampit tak lepas dari sejarah Kotawaringin Timur. Secara historis, semuanya tak terlepas dari pemerintahan Majapahit dan masuknya agama Islam ke Kalimantan, yang saat itu wilayah pantai Kalimantan Tengah bagian selatan dikuasai oleh Kerajaan Demak.
      Sejarah Kotawaringin Timur sendiri dimulai dengan masuknya pengaruh kerajaan Hindu Majapahit di tahun 1365, dengan mengangkat kepala-kepala suku menjadi menteri kerajaan. Ini dikuatkan dengan disebutnya daerah Kotawaringin dalam pupuh XIII Nagarakretagama karya Mpu Prapanca.
      Pada masa itu disebutkan, terutama pada masa keemasan Kerajaan Majapahit, yang diperintah oleh Raja Hayam Wuruk dengan mahapatihnya yang tersohor yaitu Gajah mada. Di salah satu bagian buku yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365 itu juga disebutkan, bahwa pernah dilakukan ekspedisi perjalanan Nusantara di mana salah satu tempat yang mereka singgahi adalah Sampit dan Kuala Pembuang.
      Sedangkan nama Kotawaringin sendiri berasal dari nama pohon beringin yang banyak tumbuh di daerah ini. Pohon ini mempunyai akar yang panjang dan daun yang lebat (Yusuf dan Kassu, 1989: 48).
      Terlepas dari itu, munculah di Kotawaringin sebuah pemukiman penduduk yang saat ini dijadikan sebagai ibukota Kabupaten, yang dinamakan Sampit. Nah, bagaimana sejarahnya hingga dinamakan Sampit? Data sejarah yang ada di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kotim menyebutkan, bahwa sejarah Sampit tak lepas dari kisah kedatangan 31 orang Cina yang masuk ke Sungai Mentaya dan menetap di tepian Sungai.
Di dalam sejarah yang diterbitkan oleh Bappeda Kotim, tidak disebutkan di mana letak persis lokasi pendaratan etnis Tionghoa ini. Yang jelas, kedatangan 31 orang Cina ini adalah untuk berdagang dan membuka usaha perkebunan di wilayah Kotawaringin Timur ini.
      Lantaran jumlah pedagang dari Cina ini berjumlah 31 itulah, atau dalam bahasa Cinanya tiga adalah Sum dan satu disebut It, maka jika digabungkan kedua sebutan angka tersebut menjadi Samit; entah siapa yang kali pertama menyebutkan nama Samit menjadi Sampit. Yang jelas, tempat mereka datang kemudian dikenal dengan nama Sampit, yang kemudian diabadikan hingga menjadi ibukota kabupaten hingga sekarang.
      Sejarahnya, orang-orang Cina ini bukan saja berdomisili dan berusaha di wilayah Sampit, namun mereka juga mengembangkan usaha hingga ke wilayah Samuda, yang dikenal menjadi basis pertahanan pejuang ketika melawan penjajahan Belanda dan Jepang.
      Etnis-etnis Tionghoa ini berbaur menjadi satu bersama warga setempat baik dengan warga etnis Dayak, maupun warga etnis lainnya yang hidup di pesisir pantai seperti daerah Samuda. Karena, saat itu, wilayah Kotawaringin sendiri sudah dikenal menjadi wadah tujuan perdagangan dari luar Sampit, sehingga sudah dikenal memunyai multi etnik yang terdiri beberapa suku bangsa.
      Keberadaan orang-orang Cina ini tentu saja selain memengaruhi kehidupan perekonomian warga, juga memberikan pengaruh terhadap arsitektur lokal Sampit sendiri. Sehingga arsitekturnya dikenal dengan sebutan arsitektur Bahari.
Sumber:

http://www.radarsampit.com/berita/